Rabu, 24 Februari 2010

Bulan Astronomi Global 2010

Bulan Astronomi Global 2010

Gempita Tahun Astronomi Internasional 2009 memang telah berakhir dengan kegembiraan dan kesuksesan karena telah membawa astronomi pada masyarakat global. Tidak tanggung-tanggung seluruh dunia bisa menikmati indahnya alam semesta melalui berbagai acara yang dilakukan oleh berbagai institusi astronomi maupun komunitas astronomi yang tersebar di seluruh dunia.

Salah satu acara yang menuai kesuksesan di tahun 2009 adalah rangkaian acara dalam 100 Jam Astronomi. Kegiatan yang berlangsung di seluruh dunia selama 100 Jam berhasil mengajak masyarakat menikmati langit dan mengenal astronomi dari dekat. Tak hanya itu, siaran langsung yang dilakukan melalui siaran langsung di internet berhasil mengajak masyarakat dunia mengunjungi 80 observatorium besar di dunia dan ruang angkasa. Menarik bukan? Dari sekolah sampai ke pasar, dari kota sampai ke pedesaan, masyarakat diajak untuk sama-sama berbagi langit yang sama.
Tahun astronomi memang berakhir namun kegembiraan itu tak kan pernah lekang. Dan di tahun 2010, Astronomer Without Border yang juga merupakan salah satu organisasi yang berada di balik layar 100 Jam Astronomi mengajak masyarakat global untuk kembali menikmati perayaan yang semesta untuk menikmati alam semesta. Yang menarik, tak hanya 100 Jam tapi selama satu bulan penuh di Bulan April 2010.
Bulan Astronomi Global 2010 akan menjadi kegiatan besar di tahun 2010 yang menyertakan komunitas astronomi dan institusi astronomi di seluruh dunia dalam memperkenalkan astronomi kepada masyarakat global. Inilah kesempatan untuk bekerjasama melintasi batas ras, agama, prinsip, politik, idealisme dan menikmati keindahann langit yang sama dari berbagai belahan dunia. Astronom profesional, astronom amatir, klub, pusat sains, dan institusi astronomi lainnya akan kembali membawa keindahan alam semesta itu turun ke Bumi untuk dinikmati di bawah Satu Langit Bersama.
Astronomers Without Borders
Astronomers Without Borders merupakan organisasi yang bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman bersama dan silaturahmi di antara bangsa-bangsa yang melintasi batas negara dan budaya melalui relasi yang terbentuk dari kecintaan pada astronomi. Proyek dalam Astronomers Without Border dilakukan dengan tujuan untuk saling berbagi, melalui kegemaran yang sama dan universal yakni berbagi langit.

source: langitselatan.com

Jumat, 07 Agustus 2009

Medan Magnet di Vega

Untuk pertama kalinya dideteksi medan magnet di bintang Vega, salah satu bintang terang di langit. Dengan menggunakan NARVAL spectropolarimeter bersensitivitas tinggi yang dipasang di teleskop Bernard-Lyot (Observatorium Pic du Midi, Perancis), tim astronom berhasil mendeteksi efek medan magnet dalam cahaya yang dipancarkan Vega.

Bernard-Lyot Telescope, di puncak Pic du Midi de Bigorre - Perancis. © Pascal Petit

Bernard-Lyot Telescope, di puncak Pic du Midi de Bigorre - Perancis. © Pascal Petit

Vega merupakan bintang yang sangat terkenal di kalangan astronom profesional dan amatir. Terletak di rasi Lyra pada jarak 25 tahun cahaya dari Bumi, ia merupakan bintang kelima paling terang di langit. Tak hanya itu, Vega juga digunakan sebagai bintang referensi dalam membandingkan kecerlangan. Vega dua kali lebih masif dari Matahari dengan usia sepersepuluh usia Matahari. Karena jaraknya yang cukup dekat dan kecerlangannya, Vega sudah sering menjadi bahan penelitian. Namun misteri tak pernah berhenti tersingkap. Ada saja hal baru yang ditemukan dari bintang ini saat diamati dengan alat yang lebih canggih.

Vega sendiri berotasi kurang dari sehari, sedangkan Matahari berotasi dalam 27 hari. Gaya sentrifugal yang kuat disebabkan oleh rotasi yang sangat cepat memipihkan kutubnya dan menghasilkan temperatur yang bervariasi lebih dari 1000 derajat Celcius di antara kutub dan area ekuator permukaan. Vega juga dikelilingi oleh piringan debu yang tidak homogen, sehingga diindikasikan ada planet di situ.

Kali ini, para astronom menganalisa polarisasi cahaya yang dipancarkan Vega dan mendeteksi medan magnet lemah di permukaannya. Memang bukan sebuah kejutan karena diketahui gerakan partikel-partikel bermuatan di dalam bintang dapat menimbulkan medan magnet dan dengan cara inilah medan magnet Matahari dan kebumian dihasilkan. Namun untuk bintang yang lebih masif dari Matahari, seperti Vega, model teoretik tidak dapat memprediksikan intensitas dan struktur medan magnetnya. Akibatnya para astronom tidak memiliki petunjuk terhadap kekuatan sinyal yang sedang mereka cari itu. Setelah percobaan yang gagal selama dekade lalu, alat bersensitivitas tinggi NARVAL yang disertai dedikasi tinggi untuk mengamati Vega, sebuah keberhasilan pun tercapai. Untuk pertama kalinya medan magnet di Vega berhasil dideteksi.

Bintang Vega. Kredit : Spitzer/NASA/JPL

Bintang Vega. Kredit : Spitzer/NASA/JPL

Kekuatan medan magnet Vega berkisar 50 mikro-tesla, dan memiliki kekuatan yang setara dengan medan rata-rata di antara Bumi dan Matahari. Tujuan pertama dari peneitian ini adalah untuk membuka jalan dalam melakukan studi asal usul medan magnet di bintang masif. Medan magnet memang ada namun belum terdeteksi di banyak bintang yang seperti Vega.

Bagaimanapun, diyakini penemuan ini menjadi langkah kunci untuk memahami medan magnetik bintang dan pengaruhnya dalam evolusi bintang. Dan untuk Vega, ia kini menjadi prototipe kelas baru dari bintang magnetik dan akan terus memukau para astronom di masa depan.


sumber : langitselatan.com

Selasa, 14 Juli 2009

Kesabaran 16 Tahun Berbuah Monster di Jantung Bima Sakti

Area pusat galaksi Bima Sakti. Kredit : ESO
Area pusat galaksi Bima Sakti. Kredit : ESO
Setelah melakukan studi panjang selama 16 tahun menggunakan teleskop milik ESO, tim astronom dari Jerman berhasil memperlihatkan kondisi paling detil yang pernah ada dari area di sekitar jantung galaksi Bima Sakti – area dari monster menakutkan si lubang hitam supermasif. Penelitian ini mengungkap rahasia yang tersimpan di area tersebut melalui pemetaan orbit 28 bintang. Bahkan satu bintang di antaranya telah berhasil melakukan putaran penuh mengelilingi lubang hitam.

Pengamatan gerak 28 bintang yang mengorbit area pusat galaksi Bima Sakti, menunjukan keberadaan lubang hitam supermasif yang tengah mengintip kita dari balik debu antar bintang. Ia dikenal sebagai Sagittarius A (atau dikenal sebagai bintang Sagittarius A). Berbagai informasi termasuk bentuk istimewa bintang-bintang tersebut dan juga lubang hitam yang mengikat mereka berhasil dikuak.

Pusat galaksi merupakan laboratorium yang unik dimana kita bisa belajar proses-proses dasar gravitasi yang besar dan kuat, serta dinamika dan pembentukan bintang yang memiliki keterkaitan yang sangat besar dengan inti galaksi. Disinilah pabrik kelahiran bintang dan tempat berlabuh sang monseter menakutkan, lubang hitam supermasif. DI area ini jugalah kita bisa mempelajari lubang hitam dengan lebih mendetil.

Tapi untuk mengamati area ini tidaklah mudah. Pengamatan dalam panjang gelombang tampak tidak dapat menembus blokade yang dibuat oleh debu antar bintang yang mengisi galaksi. Pandangan kita ke jantung sang galaksi ini terhalang. Kemampuan teknologi menjadi tantangan untuk dapat mengintip apa yang terjadi di sana. Untuk itu, digunakanlah panjang gelombang infra merah untuk menembus blokade debu antar bintang tersebut. Dan bintang-bintang di area pusat galaksi kemudian dijadikan partikel penguji untuk mengungkap apa yang ada di sana. Bintang-bintang itu diamati geraknya selama mengorbit Sagittarius A.

Hasil yang diperoleh sangat berguna untuk memahami lubang hitam itu sendiri contohnya dalam hal massa dan jarak. Dan tampaknya 95% massa yang mempengaruhi gerak bintang tersebut adalah lubang hitam. Karena itu, kecil kemungkinan penyebabnya adalah karena materi kelam lain. Tak pelak, hasil ini menjadi bukti empirik keberadaan lubang hitam supermasif, yang diperlihatkan oleh bintang yang megorbit pusat galaksi. Dalam pengamatan, diketahui adanya konsentrasi massa yang besar sekitar 4 juta massa Matahari yang diyakini sebagai lubang hitam yang berada pada jarak 27000 tahun cahaya.

Dari ke-28 bintang yang diamati, 6 di antaranya mengorbit lubang hitam dalam sebuah piringan dan bintang-bintang pada area paling dalam memiliki orbit acak. Bintang S2 menjadi satu-satunya bintang yang berhasil mengelilingi pusat Bima Sakti periode 16 tahun tersebut.

Untuk membangun citra jantung Bima Sakti dan menghitung orbit bintang individu, tim ini mempelajari bintang-bintang tersebut selama 16 tahun, dimulai pada tahun 1992 menggunakan kamera SHARP yang dipasang di New Technology Telescope 3,5 meter milik ESO di Observatorium La Silla, Chille. Observasi lainnya dibuat pada tahun 2002 dengan 2 instrumen yang ada di Very Large Telescope (VLT).

Walau penelitian ini berhasil membuka lembaran baru bagi pembelajaran lubang hitam dan kondisi area pusat galaksi dalam tingkat akurasi yang tinggi, namun masih banyak misteri yang belum terkuak di sana. Apalagi bintang-bintang tersebut juga masih sangat muda untuk melakukan perjalanan jauh. Diduga, bintang-bintang ini terbentuk pada orbitnya saat ini dibawah pengaruh gaya pasang surut lubang hitam.

Di masa depan, berbagai rancangan penelitian lanjutan akan dilakukan untuk mengintip monster di jantung Bima Sakti itu. Salah satunya dengan menggunakan teknologi dengan resolusi sudut yang lebih tinggi.


Sumber : langitselatan.com

Penemuan Planet Extra Galaktik Pertama

Tak ada batas akhir bagi akal para astronom. Mungkin inilah yang bisa kita katakan tentang penemuan baru ini.

Perubahan yang membawa pada penemuan panet baru di Galaksi Andromeda. Kredit  :TR

Perubahan yang membawa pada penemuan panet baru di Galaksi Andromeda. Kredit :TR

Saat ini seperti yang kita ketahui, ada lebih dari 300 exoplanet yang telah ditemukan dengan laju penemuan yang semakin besar dari waktu ke waktu. Dari semua yag telah ditemukan, baru satu planet yang terlihat secara langsung, Lainnya ditemukan dari efek yang ditimbulkan planet pada bintang induknya, yakni dengan melihat pada perubahan keerlangan sang bintang saat planet melewatinya. Jika demikian, tentunya kita harus bisa melihat bintang tersebut. Dengan kata lain, pengamatan hanya bisa dilakukan pada area lokal yakni di Bima Sakti.

Setidaknya itulah yang dilakukan para astronom, sampai saat ini.

Tapi, tidak demikian bagi Gabriele Ingroso dari National Institute of Nuclear Physics, Italia, beserta rekan-rekannya. Bagi mereka, ada kok cara untuk menemukan planet di galaksi lain. Caranya adalah dengan memanfaatkan fenomena lensa mikro dimana gravitasi satu bintang memfokuskan cahaya dari objek yang jauh ke Bumi.

Keuntungannya, lensa mikro bekerja sangat baik untuk objek jauh, sehingga bisa dikatakan sangat ideal untuk perburuan planet di galaksi lain. Secara teori, sangat memungkinkan untuk melihat objek berukuran Bumi dengan cara ini. Namun kekurangannya adalah, lensa mikro ini relatif cepat, dimana kejadian berlangsung maksimal hanya beberapa hari. Ini tentunya membuat pengamatan jadi lebih sulit untuk diuji.

Sulit untuk bisa mengamati bintang tunggal bahkan planet, Namun sejauh ini, para astronom berhasil mengenali sejumlah bintang di Andromeda melalui cara ini. Selain itu perencanaan untuk mengamati lebih banyak bintang pun tinggal hanya selangkah lagi.

Tapi, di tengah semua perencanaan itu, ada sebuah berita baru.

Cahaya dari salah satu bintang di Andromeda menunjukan perubahan yang menjadi petunjuk keberadaan objek lain yang mengorbit si bintang.

 M31, Galaksi Andromeda. Kredit : Robert Gendler / APOD

M31, Galaksi Andromeda. Kredit : Robert Gendler / APOD

Dan hasil analisis Ingrossso dan rekan-rekannya menunjukan kalau objek tersebut memiliki massa sekitar 6 massa Jupiter. Objek ini sedang menuju ke area klasifikasi sebagai bintang katai coklat. Namun ia juga masih berada dalam area sebagai sebuah planet.

Jika ia adalah planet, maka inilah planet extra-galaktik yang pertama.


Sumber : Langitselatan.com

Senin, 06 Juli 2009

Welcome..

Akhirnya Castroda (Club AStronomi SMADA) punya blog..

Blog ini masih sangat jauh dari yang diharapkan, maka kami harap saran dan kritiknya dari para pembaca smua..

Terima kasih...